Coach Doni Asmon, Pelatih Gulat yang Konsisten Membina Generasi Muda hingga Antar Atlet Raih 9 Medali di Porprov Sumbar

1000060910_11zon
1000060910_11zon

Kota Solok,Newspresisi.id — Perjuangan panjang, latihan tanpa kenal lelah, serta keyakinan untuk terus membina generasi muda akhirnya membuahkan hasil. Coach Doni Asmon, pelatih cabang olahraga (cabor) gulat Kota Solok, berhasil mengantarkan anak asuhnya meraih prestasi gemilang pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat (Sumbar) XVI.

Di tengah keterbatasan anggaran dan sempat munculnya keraguan terkait keberangkatan atlet karena dana KONI belum cair, Doni tetap memilih untuk melangkah. Dengan keyakinan dan semangat membina atlet, ia membawa 14 atlet, didampingi satu pelatih dan satu ofisial, untuk berlaga di ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.

Hasilnya tidak mengecewakan. Atlet binaan Coach Doni berhasil membawa pulang 9 medali, terdiri dari 3 emas, 3 perak, dan 3 perunggu.

Tiga medali emas masing-masing dipersembahkan oleh Zikra, Rara Rama Dani, dan Zalfa Kinaya Hasna.

1000060917_11zon
1000060917_11zon

Sementara tiga medali perak diraih Rama Putra Dori, Sahlul Samudra, dan Sahrul. Adapun tiga medali perunggu disumbangkan oleh Zikratul Bilkis, Rinto Adiputra, dan Fahlevi Alhazan.

 

Perjuangan tersebut terasa semakin emosional bagi Doni karena salah satu atlet yang berhasil meraih medali perak adalah Rama Putra Dori, anak kandungnya sendiri. Rama bahkan harus berhadapan dengan salah satu atlet andalan Kota Padang di partai final.

Selain Rama, Doni juga membawa anak kandungnya yang lain, Shinta Aulia Dori, untuk tampil di Porprov XVI. Meski belum berhasil membawa pulang medali, keikutsertaan Shinta menjadi bagian dari proses pembinaan dan pengalaman berharga dalam perjalanan olahraga gulat.

Prestasi tersebut turut mengantarkan cabor gulat Kota Solok menjadi juara umum III pada Porprov Sumbar XVI, berada di bawah Kabupaten Pasaman Barat.

Bagi Doni, pencapaian itu bukan sekadar soal medali. Ada proses panjang yang telah dijalani bersama para atlet.

Sepulang mengajar di sekolah, Doni secara rutin meluangkan waktu untuk melatih para atlet pada sore hari. Bahkan, untuk mengembangkan pembinaan gulat, ia memanfaatkan tempat latihan pribadi di rumahnya.

Sejak masa pandemi Covid-19 hingga sekarang, Doni mengaku tetap konsisten membina generasi muda melalui olahraga gulat. Baginya, olahraga bukan hanya tentang prestasi, tetapi juga menjadi sarana membentuk karakter dan menjauhkan anak-anak muda dari berbagai perilaku negatif, termasuk kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba.

“Usaha dan doa tidak akan mengkhianati hasil,” menjadi prinsip yang terus dipegang dalam menjalankan pembinaan.

Perjalanan menuju Porprov XVI juga tidak sepenuhnya berjalan mulus. Keterbatasan anggaran sempat menjadi kendala, bahkan muncul kekhawatiran apakah tim gulat Kota Solok dapat berangkat atau tidak. Pasalnya, pencairan dana KONI belum terealisasi sehingga persoalan keberangkatan diserahkan kepada pengurus cabang olahraga dan pelatih masing-masing.

Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat Doni. Dengan penuh percaya diri, ia tetap membawa para atlet untuk bertanding dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang.

Sembilan medali yang berhasil dibawa pulang akhirnya menjadi jawaban atas proses latihan yang dilakukan secara konsisten.

Lebih dari sekadar seorang pelatih, Doni Asmon menunjukkan bahwa pembinaan olahraga membutuhkan ketekunan, pengorbanan, dan keberanian untuk terus berjalan meski berada dalam keterbatasan.

Dari tempat latihan sederhana, ia terus menanamkan semangat kepada generasi muda Kota Solok bahwa prestasi tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari latihan yang berulang, disiplin, doa, dan keberanian untuk bertanding.

Kini, sembilan medali Porprov XVI menjadi salah satu bukti perjalanan panjang tersebut.(Malin)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *