Sumbar  

Sekolah Jangan Hanya Mengajar, Tapi Menjaga Masa Depan Generasi

Oleh: Ikang Fauzi Mahasiswa Program Pascasarjana UM Sumatera Barat

IMG-20260716-WA0022
IMG-20260716-WA0022

Newspresisi.id–Fenomena yang belakangan menjadi perbincangan di Kota Padang terkait kasus LGBT yang melibatkan remaja dan mahasiswa seharusnya tidak hanya dipandang sebagai isu viral di media sosial. Lebih dari itu, peristiwa tersebut perlu menjadi bahan refleksi bagi semua pihak tentang sejauh mana pendidikan mampu membentuk karakter generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital.

Padang dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Nilai-nilai agama dan budaya telah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat Minangkabau. Namun, perubahan zaman menghadirkan tantangan baru yang tidak dapat dihadapi hanya dengan mengandalkan nilai-nilai tersebut tanpa penguatan melalui pendidikan yang adaptif dan berkarakter.

 

Terbitnya Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029 yang memasukkan penyebaran budaya LGBTQ sebagai salah satu ancaman nonmiliter semakin menegaskan bahwa persoalan pembinaan generasi muda bukan sekadar urusan keluarga, melainkan juga bagian dari upaya menjaga ketahanan sosial dan nasional.

 

Dalam konteks itulah sekolah memiliki posisi yang sangat strategis. Selama ini, keberhasilan pendidikan sering kali diukur dari nilai ujian, prestasi akademik, atau banyaknya lulusan yang diterima di perguruan tinggi favorit. Padahal, ukuran keberhasilan pendidikan sejatinya jauh lebih luas, yakni kemampuan melahirkan generasi yang berilmu sekaligus berakhlak.

 

Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat mentransfer pengetahuan. Ia harus menjadi ruang pembentukan karakter, tempat peserta didik belajar mengenal jati diri, memahami nilai moral, menghormati norma agama, serta mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam kehidupannya.

 

Tantangan terbesar saat ini bukan lagi terbatas pada lingkungan sekitar, tetapi datang dari dunia digital. Melalui media sosial, berbagai ideologi, budaya, dan gaya hidup dapat diakses tanpa batas oleh remaja. Tanpa kemampuan menyaring informasi, mereka sangat mudah terpengaruh oleh berbagai konten yang belum tentu sesuai dengan nilai agama maupun budaya bangsa.

 

Karena itu, pendidikan karakter harus diperkuat. Guru tidak cukup hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga menjadi teladan dan pembimbing. Guru Pendidikan Agama, guru Bimbingan dan Konseling, wali kelas, hingga seluruh tenaga pendidik harus membangun komunikasi yang terbuka dengan peserta didik sehingga setiap persoalan dapat diselesaikan melalui dialog, bukan sekadar hukuman.

 

Pendekatan represif sering kali hanya menyelesaikan persoalan di permukaan. Sebaliknya, pendidikan yang mengedepankan keteladanan, pembinaan, konseling, dan penguatan nilai-nilai keagamaan akan lebih efektif membentuk kesadaran peserta didik. Mereka membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa didengar, dihargai, sekaligus diarahkan menuju pilihan hidup yang lebih baik.

 

Tidak kalah penting adalah keterlibatan orang tua. Pendidikan karakter tidak akan berhasil jika sekolah berjalan sendiri. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, tokoh agama, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang remaja.

Padang sebenarnya memiliki modal sosial yang sangat kuat. Tradisi musyawarah, budaya Minangkabau, kehidupan beragama yang kokoh, serta semangat kebersamaan merupakan kekayaan yang harus terus diwariskan kepada generasi muda. Modal sosial tersebut perlu diwujudkan dalam berbagai program nyata di sekolah, mulai dari penguatan pendidikan karakter, literasi digital, kegiatan keagamaan, organisasi siswa yang positif, hingga pendampingan psikologis yang memadai.

 

Pada akhirnya, isu yang berkembang hari ini hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat kualitas pendidikan, bukan memperbesar polemik. Sekolah yang berhasil bukanlah sekolah yang hanya menghasilkan siswa berprestasi secara akademik, melainkan sekolah yang mampu melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, tangguh menghadapi perubahan zaman, serta tetap berpegang teguh pada nilai agama, budaya, dan kehidupan bermasyarakat.

 

Jika sekolah mampu menjalankan peran tersebut secara konsisten, maka yang dijaga bukan hanya masa depan seorang anak, melainkan juga masa depan Kota Padang dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *