Padang,Newspresisi.id–Di banyak sudut negeri ini, mimpi sering kali lahir bukan dari rumah-rumah megah, melainkan dari ruang sempit yang dipenuhi doa dan kerja keras. Ada mimpi yang tumbuh di tengah debu jalanan, di antara deru mesin truk yang setiap pagi mengantar seorang ayah mencari nafkah demi anak-anaknya. Mimpi seperti itulah yang pernah hidup dalam diri seorang anak bernama Dafit Rico Dermawan, yang lebih dikenal masyarakat sebagai David Wewe.
Ia lahir dan besar di Kota Padang, bukan dari keluarga yang bergelimang kemewahan. Ayahnya seorang sopir truk, lelaki sederhana yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di balik kemudi, menaklukkan jalan demi jalan agar dapur tetap mengepul. Di rumah, sembilan anak menunggu dengan harapan yang sama: semoga hari esok sedikit lebih baik daripada hari ini.
Di tengah keterbatasan itu, David belajar memahami arti perjuangan jauh sebelum mengenal seragam kepolisian. Ia melihat telapak tangan ayahnya yang kasar karena pekerjaan. Ia menyaksikan ibunya mengatur setiap rupiah agar cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Dari sanalah ia mengerti bahwa kehormatan seseorang tidak pernah diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi dari seberapa jujur ia menjalani hidup.
Pendidikan menjadi tangga yang terus ia pijak. Ia menempuh sekolah di SD Negeri 02 Bandar Buat, kemudian SMP Negeri 11 Padang, melanjutkan ke SMA Semen Padang, hingga akhirnya menimba ilmu di Universitas Dharma Andalas. Namun, cita-citanya bukan sekadar meraih gelar. Ada impian yang lebih besar: mengenakan seragam Bhayangkara dan mengabdikan diri kepada masyarakat.
Jalan menuju cita-cita itu ternyata tidak ramah. Empat kali ia mengikuti seleksi menjadi anggota Polri, dan empat kali pula kegagalan menyambutnya. Banyak orang mungkin memilih berhenti. Sebab kegagalan yang berulang sering kali mampu mengikis keyakinan, bahkan pada orang-orang yang paling kuat sekalipun.
Namun David memilih jalan yang berbeda. Baginya, setiap kegagalan hanyalah jeda, bukan titik akhir. Ia percaya bahwa pintu yang belum terbuka hanya meminta seseorang untuk mengetuknya lebih lama. Hingga akhirnya, pada tahun 2000, penantian panjang itu berbuah manis. Ia diterima sebagai siswa Sekolah Calon Bintara Polri.
Sejak tahun 2001, David mengabdikan dirinya di Satreskrim Polresta Padang. Lebih dari dua puluh tahun berlalu, tetapi semangatnya tidak pernah berubah. Ia tetap memilih berada di lapangan, bertemu masyarakat, mendengar keluhan mereka, menyelesaikan persoalan dengan hati yang teduh dan langkah yang tegas.
Bagi David, menjadi polisi bukan sekadar profesi. Seragam hanyalah pakaian. Yang sesungguhnya menentukan nilai seorang Bhayangkara adalah keberanian menjaga kepercayaan masyarakat. Ia selalu mengingat pesan sederhana dari kedua orang tuanya: jangan pernah menghalalkan segala cara. Pesan itu menjadi kompas moral yang menuntunnya dalam setiap keputusan.
Kesederhanaannya justru membuatnya dekat dengan masyarakat. Ia tidak mengejar popularitas, tetapi kehadirannya dirasakan banyak orang. Ia tidak sibuk membangun citra, melainkan membangun kepercayaan. Sebab kepercayaan tidak lahir dari kata-kata, melainkan dari tindakan yang terus-menerus dilakukan dengan tulus.
Ketika namanya diumumkan sebagai nominasi Hoegeng Awards 2026 dalam kategori Polisi Berdedikasi, banyak orang menganggapnya sebagai puncak keberhasilan. Namun bagi David, penghargaan itu bukanlah garis akhir. Itu adalah pengingat bahwa setiap penghormatan membawa tanggung jawab yang lebih besar.
Ia menyambut kabar itu dengan rasa syukur, bukan kesombongan. Baginya, penghargaan hanyalah bonus dari pengabdian yang dijalani dengan ikhlas. Yang lebih penting adalah bagaimana tetap menjaga integritas, tetap rendah hati, dan tetap hadir bagi masyarakat ketika mereka membutuhkan.
Perjalanan David Wewe membuktikan bahwa asal-usul tidak pernah menentukan batas masa depan. Anak seorang sopir truk dapat berdiri sejajar dengan mereka yang lahir dalam segala kemudahan, selama ia memelihara mimpi, bekerja tanpa lelah, dan menjaga kejujuran sebagai pegangan hidup.
Kisah ini bukan hanya tentang seorang polisi yang memperoleh nominasi penghargaan bergengsi. Ini adalah kisah tentang harapan yang menolak padam. Tentang seorang anak yang memilih bangkit setiap kali jatuh. Tentang keluarga sederhana yang mengajarkan bahwa kehormatan lebih berharga daripada kekayaan.
Di negeri yang luas ini, mungkin masih banyak anak-anak yang setiap pagi melihat ayahnya berangkat dengan kendaraan tua, atau ibunya bekerja tanpa mengenal lelah. Kepada mereka, kisah David Wewe seolah berbisik pelan: jangan takut bermimpi. Sebab jalan menuju keberhasilan memang panjang, tetapi langkah yang dijaga dengan kejujuran akan selalu menemukan tujuannya.
Dan mungkin, di suatu hari nanti, ketika seseorang menyebut nama David Wewe, yang akan dikenang bukan hanya penghargaan yang pernah diraihnya. Melainkan jejak pengabdian yang ia tinggalkan—bahwa seorang manusia dapat menjadi besar bukan karena jabatannya, melainkan karena manfaat yang ia berikan kepada sesama.(*)






