Oleh : Dedi Hermanto
Talang,Newspresisi.id–Di tengah kebutuhan Kabupaten Solok terhadap sosok birokrat yang mampu menerjemahkan visi kepala daerah menjadi kerja pemerintahan yang nyata, pengalaman dan kapasitas seorang aparatur tentu menjadi pertimbangan penting. Sekretaris Daerah bukan sekadar jabatan administratif, tetapi juga membutuhkan kemampuan mengorkestrasi birokrasi, membangun komunikasi lintas organisasi perangkat daerah, serta memastikan program pembangunan berjalan efektif.
Dalam konteks tersebut, Effia Vivi Fortuna Ahadi Destri, ST, MM merupakan salah satu nama yang menarik untuk diperbincangkan.
Bukan semata karena pengalaman panjangnya sebagai pejabat daerah, tetapi karena perjalanan karier Vivi Fortuna lebih banyak bersentuhan langsung dengan infrastruktur, pembangunan fisik, tata ruang, perumahan, kawasan permukiman dan pertanahan—sektor-sektor yang sangat dekat dengan denyut pembangunan daerah.
Vivi dikenal mulai mendapat kepercayaan di Kabupaten Solok ketika pada 2016 “dijemput” oleh Bupati Solok saat itu, almarhum Gusmal, dari lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.
Kepercayaan tersebut tentu bukan datang tanpa pertimbangan.
Seorang kepala daerah tentu membutuhkan pejabat yang tidak hanya memahami teori pemerintahan, tetapi juga mampu membaca persoalan pembangunan dan mengambil keputusan teknis. Di sinilah pengalaman Vivi menjadi menarik.
Ia pernah dipercaya memimpin Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan sebelum kemudian kembali dipercaya memimpin Dinas PUPR pada periode pemerintahan Epyardi Asda–Jon Firman Pandu.
Dua kali dipercaya di sektor strategis pembangunan menunjukkan bahwa pengalaman teknis dan kemampuan manajerial Vivi memiliki nilai tersendiri dalam perjalanan birokrasi Kabupaten Solok.
Sekda Bukan Hanya Administrator
Jika berbicara tentang calon Sekretaris Daerah, ukuran keberhasilan tentu tidak cukup hanya berdasarkan kepiawaian administratif.
Sekda harus mampu menjadi penghubung antara kepala daerah dengan seluruh perangkat daerah. Ia harus bisa menerjemahkan kebijakan politik kepala daerah menjadi program birokrasi, mengawal koordinasi antar-OPD, sekaligus memastikan roda pemerintahan tetap berjalan dengan ritme yang sama.
Karena itu, sosok Sekda ideal membutuhkan kombinasi antara pengalaman, ketegasan, kemampuan komunikasi, pemahaman teknis, integritas dan kemampuan merangkul banyak pihak.
Menariknya, pesan yang tertulis dalam foto Vivi Fortuna justru menggambarkan salah satu kualitas kepemimpinan yang sangat penting:
“Pemimpin yang baik mungkin bisa membuat orang bekerja. Tetapi pemimpin yang memiliki hati mampu membuat orang bekerja dengan rasa memiliki.”
Kalimat tersebut seolah memberikan gambaran bahwa kepemimpinan tidak hanya berbicara mengenai instruksi dan target, tetapi juga bagaimana seorang pemimpin mampu membangun rasa memiliki di antara orang-orang yang dipimpinnya.
Dan dalam birokrasi, rasa memiliki itu penting.
Sebab program pemerintah tidak akan berhasil hanya karena seorang pimpinan memiliki ide. Program akan menjadi kenyataan ketika seluruh jajaran merasa memiliki tanggung jawab yang sama untuk mewujudkannya.
Pengalaman Lapangan Menjadi Modal
Kabupaten Solok memiliki tantangan pembangunan yang tidak sederhana. Persoalan infrastruktur, konektivitas wilayah, tata ruang, perumahan, pengelolaan aset dan pertanahan membutuhkan pemahaman yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga teknis dan lapangan.
Pengalaman Vivi Fortuna di bidang tersebut menjadi modal yang patut diperhitungkan.
Ia memahami bagaimana sebuah program pembangunan direncanakan, bagaimana persoalan teknis muncul di lapangan, bagaimana koordinasi diperlukan antarinstansi, serta bagaimana sebuah kebijakan pembangunan harus dikawal agar tidak berhenti pada dokumen perencanaan.
Jika pengalaman teknis tersebut kemudian dipadukan dengan kapasitas manajerial seorang Sekda, maka akan muncul satu kemungkinan menarik: birokrasi yang tidak hanya sibuk mengurus administrasi, tetapi lebih fokus memastikan program pemerintah benar-benar bergerak.
Bukan Soal Siapa yang Paling Hebat
Pada akhirnya, pembicaraan mengenai calon Sekda Kabupaten Solok bukanlah pertandingan untuk menentukan siapa yang paling hebat.
Semua pejabat yang memenuhi persyaratan tentu memiliki rekam jejak, pengalaman dan kelebihan masing-masing.
Namun, masyarakat berhak melihat dan menilai siapa yang memiliki pengalaman paling relevan dengan kebutuhan daerah, siapa yang memiliki kemampuan menggerakkan birokrasi, dan siapa yang mampu menjadi jembatan komunikasi antara kepala daerah dengan seluruh jajaran pemerintahan.
Dalam perspektif itu, Effia Vivi Fortuna Ahadi Destri, ST, MM layak masuk dalam radar pembicaraan sebagai salah satu figur yang patut dipertimbangkan untuk posisi Sekretaris Daerah Kabupaten Solok.
Bukan karena ingin mengangkat seseorang semata. Tetapi karena Kabupaten Solok membutuhkan seorang pengendali administrasi pemerintahan sekaligus penggerak birokrasi yang memahami pembangunan dari dekat.
Dan pengalaman panjang Vivi Fortuna di sektor pembangunan bisa menjadi salah satu modal penting untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Sekda membutuhkan kemampuan mengatur.
Sekda membutuhkan pengalaman. Sekda membutuhkan keberanian mengambil keputusan. Tetapi lebih dari itu, Sekda membutuhkan kemampuan membuat seluruh perangkat pemerintahan merasa menjadi bagian dari sebuah tim. Sebab pada akhirnya, pembangunan daerah bukan pekerjaan satu orang. Ia adalah kerja bersama.
Dan mungkin, di situlah makna kalimat yang terpampang dalam foto Vivi Fortuna menjadi relevan:
“Pemimpin yang memiliki hati mampu membuat orang bekerja dengan rasa memiliki.”
Kabupaten Solok membutuhkan birokrasi yang bekerja bukan karena takut kepada pimpinan, tetapi karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap daerah dan masyarakatnya.






